Menutup Perkuliahan Pengantar Keamanan Komputer dengan kegiatan Capture The Flag (CTF)

Menutup Perkuliahan Pengantar Keamanan Komputer dengan kegiatan Capture The Flag (CTF)

Setelah satu semester mempelajari berbagai konsep dasar keamanan komputer, mahasiswa Program Studi Informatika pada mata kuliah Pengantar Keamanan Komputer (PKK) kelas F4A2 menutup perkuliahan dengan kompetisi Capture The Flag (CTF). CTF dirancang untuk menguji pemahaman mahasiswa secara praktis, kreatif, dan menyenangkan.

Capture The Flag (CTF) merupakan metode pembelajaran yang populer di bidang keamanan siber. Dalam kegiatan ini, peserta diminta menyelesaikan berbagai tantangan keamanan informasi untuk menemukan sebuah “flag”, yaitu kode rahasia yang menjadi bukti keberhasilan menyelesaikan suatu soal. Kompetisi CTF tipe “Red Team vs. Blue Team” adalah simulasi perang siber interaktif di mana peserta mensimulasikan skenario serangan dan pertahanan dunia nyata. Red Team bertindak sebagai penyerang yang mencoba meretas sistem, sedangkan Blue Team mencoba bertahan mengamankan infrastruktur.

Selain mengukur pemahaman materi, kegiatan CTF juga bertujuan mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan problem solving mahasiswa. Dalam banyak kasus, peserta tidak hanya membutuhkan pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan menghubungkan berbagai petunjuk untuk menemukan solusi.

Pada skenario kali ini disiapkan sebuah server Linux yang sudah diretas dan ditanamkan link situs Judol oleh hacker. Tantangan yang diberikan mulai mengidentifikasi server, menganalisis log akses, aktivitas anomali, menganalisis file pada web server, kemudian mendapatkan dan menghapus link ke situs Judol. Mahasiswa yang berhasil mengumpulkan poin tertinggi dan tercepat dalam waktu yang ditentukan kali ini adalah Muhammad Hisyam Rabani (202410715043).

Pelaksanaan CTF mendapatkan respons yang sangat positif dari mahasiswa. Suasana kompetitif yang sehat serta hadiah menarik membuat peserta lebih termotivasi untuk mencoba berbagai pendekatan termasuk menggunakan bantuan AI dalam menyelesaikan tantangan yang diberikan. Selain itu, format CTF juga memperkenalkan mahasiswa pada metode pelatihan yang umum digunakan dalam pengembangan kompetensi keamanan siber di tingkat nasional maupun internasional.

Kegiatan Capture The Flag menjadi penutup yang menarik bagi mata kuliah Pengantar Keamanan Komputer. Melalui pendekatan pembelajaran berbasis tantangan, mahasiswa tidak hanya memahami teori keamanan informasi, tetapi juga memperoleh pengalaman praktis dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan menyelesaikan permasalahan keamanan siber. Hal ini juga sejalan dengan visi Fasilkom yaitu “Terwujudnya Fakultas Ilmu Komputer yang unggul di tingkat Nasional dan Internasional bidang ilmu Komputer yang berwawasan kebangsaan dan berbasis sekuriti guna menghasilkan sumber daya manusia yang mampu bersaing dan berperilaku baik.”

Diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan ditingkatkan pada semester-semester berikutnya sebagai sarana meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam menghadapi tantangan keamanan siber yang terus berkembang.

Dorong UMKM “Naik Kelas”, Akademisi Gelar Pendampingan Pembuatan NIB dan Digital Payment (QRIS) di Desa Kedung Pengawas Bekasi

Dorong UMKM “Naik Kelas”, Akademisi Gelar Pendampingan Pembuatan NIB dan Digital Payment (QRIS) di Desa Kedung Pengawas Bekasi

BEKASI – Dalam upaya mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar bisa “naik kelas”, tim akademisi menyelenggarakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di Desa Kedung Pengawas, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 13 Juni 2026 yang berlokasi di Aula RW. 12. Fokus dari agenda ini adalah melakukan pendampingan pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan fasilitasi Digital Payment (QRIS) bagi para pelaku UMKM setempat.

 

Tim PKM yang mengawal kegiatan ini diketuai oleh Rakhmat Purnomo, S.Pd., S.Kom., M.Kom. Program pendampingan ini hadir dengan dua langkah fundamental, (1) Membantu pelaku UMKM mendapatkan identitas legal usaha yang sah dari sistem pemerintah (https://oss.go.id), dan (2) memampukan mereka menerima pembayaran nontunai dari salah satu layanan keuangan seperti GoPay, OVO, Dana, atau ShopeePay hanya dengan satu barcode. Persiapan fondasi administrasi ini diharapkan mempermudah UMKM jika kelak ingin mengajukan permodalan ke pihak ketiga.

Output dari pelaksanaan program ini sangat konkret. Peserta kegiatan difasilitasi hingga berhasil mendapatkan dokumen Nomor Induk Berwirausaha (NIB) yang sekaligus berfungsi sebagai Tanda Daftar Perusahaan (TDP), serta memiliki akun teregistrasi yang aktif di sistem Online Single Submission Risk Based Approach (OSS RBA). Untuk menunjang transaksi digital, peserta mendapatkan Nomor Merchant (NMID) dan barcode QRIS, baik dalam bentuk softcopy di aplikasi maupun versi fisik yang bisa dicetak sebagai stan akrilik atau stiker untuk meja kasir.

Kegiatan edukasi ini menuai kesan yang sangat positif. Salah seorang pelaku UMKM mengungkapkan antusiasmenya. “Jujur, awalnya saya pikir mengurus izin usaha itu birokrasinya ribet, lama, dan butuh biaya besar. Tapi setelah didampingi langsung oleh tim Dosen dan Mahasiswa hari ini, ternyata pendaftaran NIB untuk UMKM itu sama sekali tidak dipungut biaya alias gratis. Saya sangat terbantu,” ungkapnya. Ia berharap program serupa bisa rutinkan dan kelak diberikan pelatihan mengenai pemasaran online serta pembuatan kemasan.

Apresiasi setinggi-tingginya juga disuarakan oleh perwakilan dari aparat Desa Kedung Pengawas. “Kami mewakili pengurus lingkungan sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas kegiatan pengabdian masyarakat ini. Materinya tidak sekadar teori, tapi warga kami langsung didampingi praktik memegang HP masing-masing,” tegas perwakilan tersebut. Mewakili desa, ia menaruh harapan besar agar silaturahmi dengan pihak akademisi tak terputus. Bekal legalitas dan rekam transaksi digital ini diharapkan mampu melancarkan jalan bagi warga saat hendak mengakses permodalan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari bank demi mendongkrak perekonomian keluarga.